Laman

Minggu, 18 Juli 2004

Hidayah dan Isyarat dalam Mimpi

Setelah memeluk Islam ia rajin mengikuti pengajian di beberapa majelis taklim. Ia bahkan juga aktif memerangi kemurtadan.

Ia merasa risau mendengar semakin banyaknya isu “kristenisasi.” Karena itu, ia ikut mendukung secara moril perjuangan Ustadzah Hj. Irena Handono dalam membentengi kaum ibu dan anak-anak muslim -- yang kebetulan hidupnya tersisihkan -- dari bahaya pemurtadan. Itulah dr. Welly R. Tinihada, yang sejak sembilan tahun lalu menjadi muslim.
            Menurut Welly, banyak cara untuk membentengi bahaya pemurtadan itu. Salah satu di antaranya melakukan kajian Kristologi – sebuah studi tentang seluk beluk agama Kristen lewat titik pandang Al-Quran dan hadis.

Selasa, 22 Juni 2004

Airmata Membanjir dalam Salat

Awalnya ia ingin membalas budi. Belakangan malah menemukan kebenaran Islam.

Setiap hari ia berusaha mengikuti pengajian di beberapa majelis taklim. Terutama setiap malam Jumat, ia tak pernah absen menghadiri majelis taklim ibu-ibu muslimah di kompleks perumahan Binong Permai, Tangerang, Banteng, yang beranggotakan sekitar 30 muslimah. Sudah sejak 13 tahun yang lalu ia memeluk Islam. Ia adalah Murni Sari Ningsih.

            Selain itu, ia juga belajar qiraah sab’ah, tujuh macam gaya melagukan ayat-ayat suci Al-Quran. Meski belum pernah mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran, suaranya cukup merdu, dengan tajwid yang terpelihara. Apalagi suaminya senantiasa mendorong semangat mantan guru Sekolah Minggu dari sebuah gereja Protestan di Salatiga. 

Sabtu, 15 Mei 2004

Hidayah Datang lewat Office Boy

Setelah memeluk Islam, ia mengalami berbagai cobaan yang sangat berat, bahkan sampai kini. Namun, dengan sabar dan ikhlas, ia mampu mengatasi semua cobaan itu.

Pada 1997 ia divonis dokter sebagai pengidap kanker stadium empat, alias tidak ada harapan hidup lagi. Bila bisa bertahan hidup, usianya tidak bakal mencapai dua tahun.
 Tapi, Allah SWT menghendaki lain. Ia  mendapat rahmat, sembuh dari penyakit. Hingga saat ini ia sehat walafiat dan menjalani kehidupan dengan cukup bahagia.

Rabu, 05 Mei 2004

Pemimpin Besar Pakistan

Ia berhasil menyatukan kaum muslimin India di bawah bendera partai Liga Muslim, yang akhirnya melahirkan sebuah negara Islam, Pakistan.  

www.lalkarinternational.co
Sejak lahir di Karachi pada Desember 1876, Muhammad Ali Jinnah berada dalam lingkungan keluarga berada. Meski demikian, ia mendapat didikan keras dari ayahnya dengan disiplin tinggi.
Ketika berusia 16 tahun, ia dikirim ke Inggris untuk meraih pendidikan lebih tinggi setelah mengenyam pendidikan madrasah dan Sekolah Misi di Karachi. Di negeri ini, ia berkenalan dengan Dadabhani Maoroji. Kelak, orang inilah yang mengambil peran penting dalam pembentukan karier politik Ali Jinnah.

Jumat, 23 April 2004

Hidayah Lewat Surah Maryam

Perjuangannya mencari kebenaran mengundang teror. Setelah menjadi muslimah, perempuan bekas Katolik ini rajin berdakwah.

SABTU pagi, pertengahan April 2004. Puluhan jemaah memadati masjid Namira di Tebet Barat Dalam V, Jakarta Selatan. Mereka mengikuti pengajian yang digelar oleh Majelis Taklim Al-Manthiq, yang kali itu menampilkan Ustazah Hj. Maria Theresia Suprasti. Ia mengisahkan suka dukanya dalam mencari kebenaran Islam. Perempuan bekas Katolik asal Yogyakarta itu, 20 tahun lalu telah memeluk Islam.
            Ia memang sering diundang untuk menceritakan suka dukanya yang dialaminya itu. “Biasanya setelah saya berkisah, seorang ustaz menambah atau mengoreksi kisah saya dengan dalil-dalil Al-Quran atau hadis. Dengan demikian saya membantu syiar Islam,” katanya.

Rabu, 21 April 2004

Memelihara dan Memuliakan Hak Anak Yatim

Semangatnya mengasuh anak yatim bisa diteladani. Ia pantang memanfaatkan hak anak yatim, tapi terus memelihara dan memuliakannya.

hsudiana.wordpress.com
IA tetap setia memegang prinsip: “menghidupi yayasan dan tidak hidup dari yayasan.” Karena itu, segala aktivitas yang memerlukan biaya dalam mengasuh anak yatim, ia keluarkan dari kocek sendiri. Lelaki yang berusaha selalu ihlas ini adalah Ir. Ali Abu Bakar Shahab, ketua Yayasan Panti Asuhan Anak-anak Yatim Darul Aitam di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
       Sehari-hari ia dipanggil Ami Ali. Lelaki tinggi besar ini (tinggi 171 cm, berat lebih dari satu kuintal) tidak sepeser pun mendapat gaji dari Yayasan Darul Aitam. Sebaliknya, bersama pembina dan pengurus yayasan menyumbang pikiran, tenaga dan materi untuk keperluan anak-anak asuh. 

Sabtu, 27 Maret 2004

Sang Penakluk yang Sederhana

Kekuasaannya membentang dari pantai Pasifik di timur hingga ke pinggir Sungai Don di barat. Ia disebut-sebut lebih unggul ketimbang Iskandar Agung dan Jengis Khan.


kissanak.wordpress.com
Adalah seorang penakluk yang dianggap terbesar dalam sejarah. Ia adalah Timur Leng (1336-1405 M), yang juga mendapat julukan sebagai ‘Tamerlane’, sang Penakluk Dunia. Selain Jengis Khan, dialah satu-satunya penakluk yang mampu menjelajahi daratan sangat luas, mulai dari pantai Pasifik di timur hingga ke pinggir Sungai Don di barat. Penaklukan dahsyat yang ia lakukan berhasil mengalahkan dua raja besar pada zamannya: Sultan Turki, Bayazid Yildrim, dan Kaisar Mongol, Toktamish -- yang adalah juga cucu Jengis Khan.
       Menurut para sejarawan, prestasi Timur lebih unggul dibanding Jengis Khan. Kaisar Mongol yang bengis ini tak pernah menghadapi pasukan yang kuat di daratan Rusia, sementara Timur berhadapan dengan pasukan sangat kuat yang dipimpin oleh Kaisar Toktamish. Bahkan ada sejarawan yang menilai Timur lebih menonjol ketimbang Iskandar Zulkarnain. Sebab, Iskandar hanya berhadapan dengan pasukan-pasukan yang lemah.