Presiden Palestina Yasser Arafat meninggal
dunia setelah beberapa hari dirawat di Prancis. Dunia kehilangan tokoh
perdamaiannya. Kegigihan perjuangan Arafat tercatat di hati dunia. Bagaimana
nasib Palestina ke depan?
“Hari ini, saya datang ke sini membawa
sepotong ranting zaitun dan senapan pejuang kemerdekaan. Jangan biarkan ranting
zaitun ini terlepas dari tanganku”. (Pidato Yasser Arafat di PBB, November
1974).
| www.theguardian.com |
Yasser
Arafat memang tak hanya milik Palestina. Meskipun ketika ia masih hidup hanya
sebagai milik Palestina. Namun, ketika ia mati, Arafat telah menjadi milik
dunia. Ia menjadi simbul bangsa yang teraniaya yang hingga kini menjadi
bulan-bulanan negara-negara maju.
Penderitaan
Arafat dan perjuangannya berakhir hari Kamis, tanggal 28 Ramadan, pukul 03.30
dinihari di Prancis setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit militer Percy
di Clamart, Prancis. Rasa duka segera menyebar cepat ke penjuru dunia. Remaja
dan pemuda Palestina yang sangat mengidolakannya tak percaya dengan kepergian
itu. Harian Al-Ayyam, Yerussalem, menuliskan sebuah kata duka yang tak terhingga
pada edisi Jumatnya. Musuh-musuh Arafat seperti melupakan perbedaan dan menyatu
untuk meratapi kepergiannya.