Laman

Minggu, 14 November 2004

Zaitun Palestina itu Telah Tiada


Presiden Palestina Yasser Arafat meninggal dunia setelah beberapa hari dirawat di Prancis. Dunia kehilangan tokoh perdamaiannya. Kegigihan perjuangan Arafat tercatat di hati dunia. Bagaimana nasib Palestina ke depan?

“Hari ini, saya datang ke sini membawa sepotong ranting zaitun dan senapan pejuang kemerdekaan. Jangan biarkan ranting zaitun ini terlepas dari tanganku”. (Pidato Yasser Arafat di PBB, November 1974).

www.theguardian.com
Yasser Arafat memang tak hanya milik Palestina. Meskipun ketika ia masih hidup hanya sebagai milik Palestina. Namun, ketika ia mati, Arafat telah menjadi milik dunia. Ia menjadi simbul bangsa yang teraniaya yang hingga kini menjadi bulan-bulanan negara-negara maju.

Penderitaan Arafat dan perjuangannya berakhir hari Kamis, tanggal 28 Ramadan, pukul 03.30 dinihari di Prancis setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit militer Percy di Clamart, Prancis. Rasa duka segera menyebar cepat ke penjuru dunia. Remaja dan pemuda Palestina yang sangat mengidolakannya tak percaya dengan kepergian itu. Harian Al-Ayyam, Yerussalem, menuliskan sebuah kata duka yang tak terhingga pada edisi Jumatnya. Musuh-musuh Arafat seperti melupakan perbedaan dan menyatu untuk meratapi kepergiannya.

Jumat, 01 Oktober 2004

Rumahku adalah Surgaku



Meski diusir dan hendak dibunuh, ia tetap memeluk Islam. Ia adalah Lauw Siem Hoat, yang kini muballigh terkenal.


NAMA aslinya Lauw Siem Hoat. Sejak remaja tertarik dengan Islam, akhirnya ia menjadi seorang muslim bahkan tampil sebagai seorang muballigh, berceramah dari mesjid ke mesjid, dari majelis taklim ke majelis taklim, dari kampung ke kampung, dari kota ke kota. Bahkan ia juga pernah diundang berceramah di Singapura dan Malaysia. Waktunya habis buat berdakwah, hampir tidak ada waktu untuk keluarganya.
            Akhirnya, pada suatu saat, ia sempat berpikir, “Dakwah di lingkungan keluarga tentu tidak kalah penting.” Sejak itu ia mulai mengurangi jadual kegiatan dakwah di luar rumah. Bahkan jadual pengajian di Al-Istiqomah, majelis taklim binaannya, juga ia kurangi. Biasanya ia hadir setiap hari, belakangan hanya dua tiga bulan sekali. Maklum, selain tempatnya jauh – di Jonggol, Bogor – untuk menuju ke sana biaya trasportnya pun tentu tidak sedikit. Apalagi ia biasa menyantuni fakir miskin di daerah tersebut.

Jumat, 17 September 2004

Buah Belajar Mengaji kepada Anaknya


Meski sering mendapat iming-iming agar kembali pada agama semula, ia tetap mempertahankan  Islam sebagai agamanya. Dalam keadaan miskin, ia tetap menjalani agama penuh berkah ini dengan rasa sabar dan syukur.


Ba’da Isya, akhir Juni 2004. Alunan pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran sayup-sayup terdengar dari sebuah rumah tipe 21 -- dengan luas tanah berukuran 60 M2  -- di daerah Binong Permai, Tangerang, Banten. Makin dekat, tampak seorang bapak sedang belajar mengaji kepada anak sulungnya yang baru saja lulus dari SMP Negeri 6, Tangerang. Bapak dari empat anak ini, tak lain bernama Mulyadi Lesmana, seorang keturunan Tionghoa, yang sejak 15 tahun lalu telah menjadi muslim. “Hampir setiap ba’da Isya hingga kurang lebih dua jam lamanya, saya belajar mengaji kepada anak sulung saya,” tutur Mulyadi, terus terang.

Menurut Mulyadi, anak sulungnya yang bernama Andi Mulya ini seperti mendapat rahmat dari Allah SWT.  Ia mampu mengaji dengan tajwid yang cukup terpelihara. Padahal, ia tak pernah belajar mengaji secara khusus kepada seorang guru ngaji. Ia hanya beberapa hari pernah belajar mengaji kepada seorang kiai lalu ditinggalkannya. Pasalnya, kawan-kawannya sering mengejek karena ia seorang Cina miskin.  

Minggu, 15 Agustus 2004

Hidayah dari Radio Antar Nusa

Setelah pindah dari satu agama ke agama lain, ia menemukan kebenaran. Dan akhirnya seluruh keluarganya memeluk Islam.

IA sering diperkenalkan sebagai “ustaz dari Hongkong.” Ia memang keturunan Cina asal Hongkong. Itulah Mahmud Yunus, yang nama aslinya Lauw Pengkun, muballig yang jadual ceramarnya cukup padat. Dari mesjid ke mesjid, dari kampung ke kampung, dari majelis taklim ke majelis taklim, dari kota ke kota. Bahkan pernah sekali ia berdakwah sampai ke Malaysia.

Ceramahnya kadang terdengar keras. Tapi, lebih sering menguras air mata. Ia pun menyisipkan dalil-dalil Alquran dan hadist dengan fasih. Ia mampu menjawab semua keluhan dan pertanyaan jemaah dengan bijak. Ia memberikan resep jitu berlandaskan Alquran dan hadist.

Selasa, 03 Agustus 2004

Singa Mesir yang Gagah dan Tegar

HASAN AL-BANNA

Ia menegakkan amar makruf nahi mungkar di Mesir yang dikuasai imperialis Inggris. Aroma perjuangannya terus menebar di pelbagai belahan dunia.

Para pengamat menyejajarkan Al-Banna dengan Muhammad Abduh, bagai satu badan dan ruh. Bila Abduh yang lebih senior dianggap sebagai kepala, Al-Banna sebagai ekornya. Bila Abduh sebagai otak, Al-Banna sebagai penggerak kebangkitan perjuangan umat Islam internasional. Keduanya memang tidak berada dalam satu kurun waktu, namun pemikiran dan visi keduanya berada dalam tujuan yang sama.

Al-Banna telah mengejutkan Mesir, dunia Arab, dan dunia Islam lewat dakwah, kaderisasi, serta jihad yang luar biasa. Di dalamnya terdapat pemikiran yang brilian, daya nalar yang terang menyala, perasaan bergelora, hati yang penuh limpahan berkah, jiwa yang dinamis nan cemerlang, dan lidah yang tajam lagi berkesan.

Minggu, 18 Juli 2004

Hidayah dan Isyarat dalam Mimpi

Setelah memeluk Islam ia rajin mengikuti pengajian di beberapa majelis taklim. Ia bahkan juga aktif memerangi kemurtadan.

Ia merasa risau mendengar semakin banyaknya isu “kristenisasi.” Karena itu, ia ikut mendukung secara moril perjuangan Ustadzah Hj. Irena Handono dalam membentengi kaum ibu dan anak-anak muslim -- yang kebetulan hidupnya tersisihkan -- dari bahaya pemurtadan. Itulah dr. Welly R. Tinihada, yang sejak sembilan tahun lalu menjadi muslim.
            Menurut Welly, banyak cara untuk membentengi bahaya pemurtadan itu. Salah satu di antaranya melakukan kajian Kristologi – sebuah studi tentang seluk beluk agama Kristen lewat titik pandang Al-Quran dan hadis.

Selasa, 22 Juni 2004

Airmata Membanjir dalam Salat

Awalnya ia ingin membalas budi. Belakangan malah menemukan kebenaran Islam.

Setiap hari ia berusaha mengikuti pengajian di beberapa majelis taklim. Terutama setiap malam Jumat, ia tak pernah absen menghadiri majelis taklim ibu-ibu muslimah di kompleks perumahan Binong Permai, Tangerang, Banteng, yang beranggotakan sekitar 30 muslimah. Sudah sejak 13 tahun yang lalu ia memeluk Islam. Ia adalah Murni Sari Ningsih.

            Selain itu, ia juga belajar qiraah sab’ah, tujuh macam gaya melagukan ayat-ayat suci Al-Quran. Meski belum pernah mengikuti Musabaqah Tilawatil Quran, suaranya cukup merdu, dengan tajwid yang terpelihara. Apalagi suaminya senantiasa mendorong semangat mantan guru Sekolah Minggu dari sebuah gereja Protestan di Salatiga.