Laman

Sabtu, 19 November 2005

Seberkas Cahaya Untuk Membela Wanita

Siapa tak mengenal Lutfiah Sungkar. Satu dari sekian muballigh perempuan yang memperoleh popularitas setelah disosialisasikan media.


www.kapanlagi.com
Lutfiah Sungkar bak seorang dokter spesialis yang lagi laris manis. Setiap Kamis pagi, tepatnya pukul 7.30 WIB, muballigh perempuan (muballighah) ini selalu ditunggu-tunggu para pemirsa Indosiar, khususnya kaum ibu.

Dalam acara Penyejuk Imani Islam yang ditayangkan secara langsung itu, ia mulai menyambut para pemirsa dengan suara nan lembut. Berlahan menuangkan air di jiwa semua orang yang sedang gelisah.


Setelah menyampaikan beberapa kalimat bernas, ia menerima dering telepon dari beberapa pemirsa. Mereka menyampaikan keluhan tentang seputar kehidupan rumah tangga, perselingkuhan atau anak yang dianggap durhaka atau anak yang merasa durhaka. Tak sedikit di antara mereka dibarengi dengan suara isak tangis.

Minggu, 13 November 2005

Antisipasi Upaya Pemurtadan

Dari pemeluk Katolik dan Paguyuban Ngesti Tunggal, akhirnya ia memeluk Islam. Kini ia berdakwah di Yogyakarta dan sekitarnya.

http://duniamuallaf.blogspot.com
Rangkaian dakwahnya lebih banyak mengupas kajian Kristologi: membahas berbagai masalah yang berhubungan dengan kekristenan lewat titik pandang Al-Quran dan hadis. Itulah H. Wahid Rosyid Lasiman, mantan penginjil yang sejak 24 tahun lalu memeluk Islam.

Untuk lebih memperkuat upaya dakwahnya, ia juga menggelar dialog atau konsultasi perbandingan agama, khususnya antara Islam dan Kristen, baik di pondok pesantren miliknya sendiri maupun di majelis-majelis taklim di Yogyakarta. 

Senin, 31 Oktober 2005

Kisah Wartawan Mencari Tuhan

Ia memeluk Islam setelah mengakui agama yang dibawa Rasulullah itu paling sempurna. Setelah menjadi muslim, ia merasa tenang dan damai. 

store.tempo.co
KINI rumah itu sudah berdiri kokoh kembali setelah terbakar habis bersama sederet rumah-rumah lain sekitar 12 tahun silam. Ketika itu, saat sahur tiba, empat hari menjelang hari raya Idul Fitri, rumah itu terbakar habis. Kini, rumah kecil di lahan kurang dari 100 m2 di Jalan Kenari, Depok Utara, itu sudah kembali tertata baik. Ruang tamu rapih dan apik. Di salah satu sudut ruangan bertengger sebuah lukisan abstrak cukup besar. Meja kursi mungil berselimutkan kain warna hijau toska melengkapi keasriannya. 

Di rumah bertingkat dua itulah Suwatdi Bachrun dan keluarganya tinggal. “Alhamdulillah, saya bisa membangun rumah ini kembali. Saat rumah itu terbakar habis beserta isinya, harta saya yang tersisa hanyalah baju yang melekat di tubuh. Namun, berkat ridha Allah, saya bisa membangun rumah itu kembali,” kata Bachrun bersyukur. 

Senin, 24 Oktober 2005

“Yang Perkasa” dari Kepulauan Riau


Ia tetap sabar dan tabah menghadapi cobaan. Ia berprinsip, di balik musibah pasti ada hikmahnya.

sulselonline.com
Ketika lidah api melahap rumahnya hingga rata dengan tanah, ia berstatus penganggur. Posisi sebagai manajer di sebuah perusahaan kayu terpaksa dilepas, karena ia tidak bersedia ditempatkan di Biak, Irian, dua tahun sebelumnya. Itulah serpihan nasib yang merundung Aziz Berlian, seorang mualaf asal Tanjung Pinang, sejak enam tahun lalu.

Peristiwa itu terjadi pada 29 Oktober 2004, tepatnya di bulan Ramadan, menimpa rumahnya di Perumahan Citra I, Cengkareng, Tangerang. Namun, alhamdulillah ia dan keluarganya selamat, karena saat itu keluarga tersebut sedang berbuka puasa bersama keluarga kakaknya di sebuah restoran di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Yang tersisa hanya beberapa dokumen dan sebuah Al-Quran, yang biasa digunakan mengaji sehari-hari. 

Jumat, 21 Oktober 2005

Hidayah karena Ceramah Habib Alwi Jamalulail


Karena sering mendengar ceramah Habib Alwi Jamalulail, ia memeluk Islam. Kini ia aktif sebagai juru dakwah dan memberikan terapi spiritual. 
rasajakarta.wordpress.com
Kehadiran Muhammad Tan Gunawan Arief di Masjid Al-Amin, Glodok Plaza, Jakarta Barat, dua atau tiga hari sekali, tidak lain untuk mengimami salat fardu, memberikan tausiah “tujuh menit”, di samping membuka praktik terapi spiritual. 

Gunawan, 54 tahun, pria keturunan Cina yang memeluk Islam sejak 33 tahun lalu, berharap, Masjid Al-Amin milik Bukopin itu bisa diwakafkan keseluruhannya kepada umat. Masalahnya, jemaahnya cukup padat, sepadat pedagang keturunan Cina non-muslim di kompleks pertokoan itu.

Rabu, 21 September 2005

Hidayah lewat Surat Al-Ikhlas


Setelah sakit berat, lelaki bule itu memeluk Islam bersama isterinya. Kini mereka hidup bahagia.

anggunsugiarti.blogspot.com
RUMAHNYA hampir tenggelam gara-gara Jakarta banjir pada 2001 lalu. Maklum, bangunannya berdiri di lembah dekat sungai di pojok kompleks Cirendeu Permai, Jakarta Selatan. Setelah direnovasi, rumah dengan lahan seluas sekitar 400 M2 itu kembali tertata apik. 

            Ruang tamunya yang menyatu dengan ruang tengah memberi kesan luas. Di salah satu sudutnya bertengger lukisan burung-burung merak ukuran 2 x 1,5 meter persegi. Sebuah patung artistik rupa setinggi satu meter berdiri tak jauh dari lukisan itu. Meja kursi mungil berselimutkan kain warna putih melengkapi keasriannya. Sementara lukisan Ka’bah ukuran 1,5 x 1 meter persegi menghiasi ruang tengah. Di samping kanan ruang tengah terdapat ruang salat cukup luas, sekitar 4 x 7 meter persegi. Lantainya berselimutkan karpet indah dan bersih.

Kamis, 08 September 2005

Menemukan Islam lewat Danarto


Inilah kisah seorang pelukis dan dosen IKJ yang menemukan kebenaran Islam setelah berdiskusi dengan pelukis Danarto. Kini ia tekun beribadah.

beritafotojakarta.wordpress.com
MALAM itu langit bertabur bintang, meski bulan tak lagi purnama. Suatu hari di bulan Juni lalu, sebagian seniman dan para peminat senirupa hadir di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat. Hampir satu jam mereka menunggu sambil berdiri, menunggu pembukaan pameran lukisan dan grafis karya pelukis Sukamto. Sekitar 50 karya Sukamto digelar: sketsa, lukisan, dan grafis dengan teknik cukilan kayu, etsa, lithografi, linografi, alugrafi, cetak saring serta berbagai teknik campur.

Dosen senior di jurusan  Seni Murni Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta ini sudah 40 puluh kali berpameran bersama seniman lain di dalam maupun di luarnegeri. Ia juga sempat mendapat berbagai penghargaan. Antara lain, penghargaan sebagai pelukis dengan karya terbaik di Trienalle Senirupa International ke-18 di India (1994).